Rabu, 22 Mei 2013

KISAH si TENISAH


Pernah ke Indramayu? Sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Barat. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di Utara, Kabupaten Cirebon di Tenggara, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Sumedang di Selatan, serta Kabupaten Subang di Barat. 

Saya pernah ke Indramayu, kira-kira 4 tahun yang lalu, dalam rangka pekerjaan di tempat dulu saya bekerja. 

Pernah tahu batik Indramayu? Batik Indramayu sering juga disebut dengan batik Dermayon, yang berasal dari nama Indramayu pd ms lalu, bernama Darma Ayu. Oleh orang Indramayu dalam pengucapan kesehariannya terkadang diberi imbuhan -an, sehingga dalam dialek kesehariannya menjadi Dermayon atau Darmayuan. Yang berarti, khas Indramayu. Maka batik Dermayon berarti batik yang berasal dari Indramayu. Selain batik Dermayon, masyarakat sekitar juga menyebut Batik Indramayu dgn istilah Batik Paoman. Hal ini dikarenakan Paoman merupakan sentra batik di Kabupaten Indramayu.

Latar belakang keberadaan Batik Paoman, bermula dari pelancong Cina yang singgah di Pulau Nila atau yang sekarang disebut dhn Desa Babadan. Pd waktu itu Cina membawa kain yg belum selesai proses pembatikannya. Setelah pelancong Cina mempunyai tempat persinggahan, mereka kemudian melanjutkan kembali proses pembatikannya. Dan diperkenalkanlah batik tersebut kepada warga pribumi, yang kemudian diikuti oleh warga pribumi. Dari desa Babadan, kemudian berkembang dan menyebar ke Desa Terusan, Penganjang, Paoman dan Pabean Udik. 

Kini, perkembangan dan penyebaran daerah pembatikan tersebut menjadi sentra Batik Paoman, yaitu terletak pada dua wilayah Kecamatan, meliputi kec Indramayu, diantaranya Desa Paoman dan Pabean Udik. Dan Kecamatan Sindang, diantaranya Desa Penganjang, Desa Babadan dan Desa Terusan.

Beberapa motif yang dibawa oleh pelancong Cina kini akhirnya banyak berkembang sebagai motif batik di Indramayu, misalnya motif jati rombeng, barongan, banji dan burung phoenix.

Saya jatuh cinta dengan batik Indramayu. Dulu ada teman yang membawa batik Indramayu, dengan warna gelap dan suram. Tapi dengan perkembangan dan mungkin permintaan pasar, batik Indramayu pun terlihat lebih terang dan menarik perhatian. Motif dan warnanya yang terlihat klasik tapi tetap modern, membuat saya jatuh hati.

Koleksi awal Mei 2013 ini, memakai batik Indramayu. Garis desain yang dipilih terinsiprasi dari pakaian tenis. Referensi model saya dapat dari desain pakaian tenis tempo dulu, sampai pakaian tenis yang dikenakan atlet tenis Amerika "The William Sisters" (Venus dan Serena Williams). 

Terusan-terusan yang berlipit, potongan pada pinggul, berkantong. Juga kancing-kancing di bagian depan.  Beberapa rok juga menjadi pelengkap pada koleksi ini.

Perpaduan batik Indramayu dan pakaian tenis? Ah,pasti cocok kalau namanya TENISAH. Tenis dari Indramayu. Khas nama perempuan Indramayu. Terdiri dari 3 suku kata, dan biasanya diakhiri dengan huruf h di belakangnya.

Sesi fotonya sendiri berjalan seru. Setelah tanya sana-sini, akhirnya ketemu lapangan tenis yang bisa dipakai untuk foto. Terima kasih kepada Edy, Ucha dan Pak Mardi atas pinjaman lapangan dan raket jadulnya. Lapangan serasa milik kita deh hari itu....

Model-modelnya ada 4 orang. Dengan karakter wajah, gaya dan ukuran tubuh yang berbeda-beda. Grace yang retro unik, Iin yang feminin eksotis, Gaya yang maskulin kekanakan, dan Ferial yang sporty modern. Mantab (pake b!)

Budi Laksono, si tukang foto keliatannya menikmati sekali saat-saat memotret, ditemani Uli. Sementara saya ditemani Putri, Abu dan Kiki. Sesi foto selalu menjadi saat terseru setiap ada koleksi baru. 

Makasih ya semuanyaaa...Makasih juga untuk Mbak Carwati dari Batik Indramayu, untuk cerita batik-batiknya.


Maka, inilah TENISAH. Mungkin kamu mau main tenis memakai salah satu koleksi ini? Mmm... siapa tau aja... :)

Salam, 
Lila.






Cerita Kebaya Panjang "Kepak Kebaya"


Saya itu suka motif ayam. Di baju. Barang-barang kecil. Di sarung bantal. Atau pilihan kedua adalah motif burung. Saya juga pengen sekali mempunyai kain motif unggas-unggasan ini di atas kain katun paris. Melambai. Tipis. Mau dijadikan apa? Lihat saja nanti.

Kain saya pesan dari Pekalongan. Erni, dari Batik Aruna, mewujudkan keinginan saya yang banyaaak banget dengan tepat sekali. Tadinya sih mau pesen motif ayam. Tapi adanya batik tulis. Mmm... Erni lalu memberikan alternatif motif burung. Canting yang ada adalah burung dan merak berpasangan. Boleh juga deh... Mulailah kami saling diskusi dan ngobrol. Saya mauu motif burung dipadukan bentuk lain seperti garis atau zigzag. Mau warna ini, itu, tapi seperti ini dan itu. Dicolet warna ini dan itu. Dan seterusnya. 

Setelah kain diterima, yang ada di kepala adalah kebaya panjang gaya kebaya Sumatra/ras Melayu. Longgar, ringan, tidak berkancing (hanya satu pengait saja). Maka jadilah kebaya-kebaya ini.

Saat pemotretan adalah saat paling menyenangkan. Mengambil lokasi di Jalan utama di Yogyakarta. Di mana lagi kalau bukan Jalan Malioboro. Juga mengambil sudut di sekitar Pecinan, Jalan Ketandan. Karena sesi foto dilakukan di hari Minggu, jadinya toko-toko di sekitar Jalan Ketandan hampir semuanya tutup. Dengan memakai kutang nenek yang dibeli di pasar Bringhardjo, jadilah Lia memakai 2 set kebaya dengan kain, 1 set dengan gaun seksi, dan 1 set lagi dengan celana aladin pendek. Untuk riasan wajah dan rambut, Lia sendiri yang melakukannya. Memang, selain model, Lia profesinya "tukang rias". 

Terima kasih kepada Lia Michael yang menjadikan kebaya-kebaya ini jadi lebih cantik. Budi Laksono, fotograferku. Uli asisten fotografer. Untuk Abu, "bapaknya anak-anak". hihihihi... Untuk Aksan yang sabar menunggu sama Bu Par.

Oya, terima kasih kepada penemu kebaya. Terima kasih kepada pembongkar Lemari Lila yang selalu menunggu koleksi saya. 

Salam manis, Lila.








Selasa, 21 Mei 2013

Koleksi Maret 2012: Sejumput Jumputan

Ini dia koleksi Sejumput Jumputan. 

Ide awalnya sebenarnya terpisah-pisah. Saya, si pemilik lemari, maunya banyak. Mau produksi terusan kutubaru ah.. mau buat kebaya nenek atau simbok ah.. mau buat atasan yang nyaman ah. Kadang jadinya nggak fokus. Sambil mengumpulkan ide di sela-sela menyusui dan menemani bayi 7 bulan saya, saya buka-buka toko-toko online di Facebook. Lalu ketemulah yang menjual jumputan yang  bagus-bagus. Lalu saya memesan di sana.

Saat itulah ide mengambil benang merah dari mau yang banyak tadi muncul. Kenapa nggak saya buat aja semuanya berjumputan ya? Walaupun hanya aksennya. Lalu mulailah saya menggambar-gambar di kertas dengan sketsa saya yang seperti anak SD, dan tidak bagus layaknya perancang busana profesional.. 

Mulailah produksi dilakukan. Mulai dari tukar ide dengan penjahit saya, membuat mock up baju, perbaikan dan benar-benar memproduksi baju-baju untuk dipasarkan. Pemilihan model blus atasan mendapat referensi dari Rosso, perancang busana terkenal di Jogja. Dengan perubahan di beberapa bagian, jadilah atasan ala Lemari Lila. 

Terusan kutubaru adalah atasan kutubaru yang dipanjangkan bagian bawahnya. Pemilihan wrapping skirt dengan rok melebar seperti payung, adalah perpaduan gaya etnik dan vintage sesuai selera saya. Kali ini saya ingin memadukan jumputan dengan bahan polos dan batik garutan. Jarang-jarang saya pakai garutan, karena saking populernya dia, sering-sering baju yang ada seperti serupa. Batik garutanpun saya pilih motif kawung. Motif klasik yang saya suka. 

Lalu si kebaya. Ini bukan model baru. Tapi keseruannya muncul saat memilih motif dan bahan apa yang akan dipakai untuk kebayanya. Referensi saya adalah kebaya nenek saya sendiri. Ide memproduksi kebaya simbok ini sudah lama pengen diwujudkan, tapi saya belum ketemu bahan yang bagus saja. Setelah ketemu bahannya, rasanya senaang... Satu kebaya yang sudah jadipun masuk ke lemari pribadi. Hehehhehe.

Dari baju-baju masih dijahit, di kepala saya sudah ada wajah Kiky dan Iid untuk jadi model peraganya nanti. Kiky ukurannya Small, Iid ukurannya Large. Cocok untuk baju-baju yang jadi nanti. Untuk model di Lemari Lila ini, saya memang sengaja tidak mencari khusus orang yang profesinya model. Alasannya sih, saya tidak mau baju itu bagus karena dipakai oleh model profesional yang memang dilahirkan bertubuh bagus. Pilihan saya selalu ke teman-teman atau diri sendiri yang tubuhnya "nggak terlalu model (banget)". Hahahahhaa.... Sebenernya sih biar yang badannya kurus, agak besar, besar dan tidak tinggi jadi bisa ngebayangin kalau pakai baju Lemari Lila kayak gimana. 

Jadilah Kiky dan Iid modelnya kali ini. Kita juga kolaborasi produk. Lemari Lila dan Helloo Bleu. Boneka matrioshka yang dipilih untuk mejeng sudah pasti saya setujui, karna saya penggemar si matrioshka ini. Untuk model berukuran M, saya ajak Uli yang selalu sibuk dengan tinggi badannya yang mungil (mungil lho Li... bukan pendek). 

Juru foto siapa lagi kalau bukan suami tersayang, Bapak Abu. Hehehhee... di hari H malah kedatangan teman yang juru foto juga. Mas Budi Laksono. Jadilah foto-foto ini. Lumayan lah... eh puas banget kok! Panas banget hari itu, tapi kita seru-seru aja foto-foto. Saya juga harus bisa membagi perhatian antara Aksan, bayi saya dan mengarahkan gaya para "model". Hehehhee... 

Oya, selain kolaborasi dengan Helloo Bleu, saya juga memakai kalung produksi Manikam Indonesia dan tas-tas cantiknya Myurbey. Tadinya saya sudah niat mau pakai tas buatan Belinda ini untuk sesi foto, Eh taunya Kiky dan Iid juga bawa tas Myurbey, ya udah digabungin aja...

Saat mengedit foto-foto itu, saya mulai menamai mereka. JUMputan. Mmm. JUMinten. JUMinah. JUMiyem. Bungkuuuuus!

Seperti layaknya pemenang piala Oscar, saya mau berterima kasih kepada Allah SWT, Abu sang suami, Aksan anakku sayang (untuk kesabarannya menunda waktu menyusui saat ibunya sedang sibuk ini itu), Kiky model favoritku (entah kenapa wajah dan tubuhnya itu "Lemari Lila" banget), Iid yang ternyata keren abis di foto, Uli yang ternyata manis banget di foto, Budi Laksono yang ikutan fotoin kita. mmm sapa lagi ya. Mas Fajar Ciptandi dari Manikam Indonesia.. Belinda dari Myurbey. Oya, mas Rosso atas referensi idenya, para ibu-ibu dan nenek-nenek yang masih berkebaya, dan semua pembuka Lemari Lila.







Model: Iid, Kiky dan Uli.
Fotografer: Budi Laksono
Lokasi: depan rumah
Matrioshka plushie: Hello Bleu. 


Senin, 20 Mei 2013

Kebaya Si Mbok "Jumiyem"

Apa yang terbayang di pikiranmu kalau mendengar kata Mbok?  Ibu-ibu tua? Wanita berkebaya dengan sanggul berantakan? Nenek-nenek bersirih di mulut?
Atau wanita modern dengan wajah sangat Indonesia (hidung pesek, bibir tebal lebar, mata besar, kulit gelap). Atau gimana?

Sering kali kita menggunakan kata "mbok" dalam kalimat bercandaan dengan teman. "Ih, kamu kayak mbok-mbok banget sih". Atau "Duh, mukanya mbok pisan euy". Nggak asing dengan ejekan "duh, baju mahal muka mbok". Kadang kata Mbok menjadi sesuatu yang lebih rendah daripada kita.

Mbok sendiri berasal dari bahasa Jawa. Kalau melihat arti kata Mbok di dalam kamus kata, ada tiga artinya:
1. Kata sapaan (ragam bahasa Jawa bebas/bukan halus) terhadap wanita.
2. Kata sapaan terhadap orang tua wanita atau Ibu.
3. Kata sapaan terhadap wanita tua yngg kedudukan sosialnya lebih rendah daripada yg menyebutnya.

Saya rasa, arti ketiga itulah yang kadang-kadang membuat kata Mbok berkesan berarti lebih "rendah". 

Pada penduduk Jawa Tengah sendiri, penggunaan kata mbok lebih "mulia" digunakannya. Kebanyakan memang digunakan oleh mereka yang hidup di kota kecil dan masih memegang keaslian tradisinya, termasuk penggunakan kata dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya bilang "mulia"? Karena, Mbok adalah panggilan seorang anak kepada ibunya. Atau panggilan seseorang kepada wanita yang dia anggap lebih tua. Seseorang yang dia hormati.

Untuk saya, yang terbayang saat mendengar kata Mbok, adalah seorang wanita Jawa. Sudah berumur diatas 50 tahun. Bersanggul agak besar khas orang Jawa. Berwajah tenang dan ayu. Mengenakan kebaya. Bisa jadi ia bernama Mbok Jumiyem.

Menyambut ulangtahun Ibunda tercinta saya tanggal 29 Desember nanti, Lemari Lila kembali mengeluarkan koleksi kebaya Jumiyem. Kebaya Si Mbok yang khas. Sifon berbunga-bunga, tipis. Ada kutubaru di tengahnya dengan kancing bungkus. Dimodifikasi dengan tempelan jumputan di pinggang, menggantikan tugas stagen asli yang panjang. Demi kepraktisan.

Kebaya si Mbok. Kebaya si Ibu. Mungkin saat memakainya, orang-orang sekitarmu akan berkomentar "Gile, ada mbok cantik. Seksi. Anggun!"
Selamat berkebaya. Selamat ber"Jumiyem".

Terima kasih untuk Lia yang jadi model pada koleksi ini.
Tommy dan Kenny yang ikut nemenin saat foto.
Abu si "Bapak" juru foto.
Kiki yang masakin kita saat pemotretan.
Terima kasih untuk Nenek dan ibu saya yang jadi inspirasi untuk kebaya-kebayanya.

Salam, Lila




Ibu Sariani, 56, menjual jamu di Pasar Bringharjo-Jogjakarta, sejak 1979

Mbah Mujiah, 89. Penjual baju bekas di Pasar Bringharjo, Jogjakarta

Model: Lia Michael
Fotografer: Abu Juniarenta
Lokasi: rumah Lemari Lila

Kamis, 14 Juni 2012

Termotivasi Motif Binatang

Ini koleksi Mei 2012.  

Ide dan kegiatan mengumpulkan kain batiknya sudah saya lakukan sejak sekitar 2 bulan yang lalu.Berawal dari kegiatan membuka toko batik online di FB. Saya membuka album yang berisi motif batik binatang. Judul albumnya "Batik Anak". Bolak-balik saya pindahkan fotonya dari foto depan terus ke belakang, dan ke depan lagi. Batik anak? Hmmm.... Di layar ada batik cap Tasik yang bermotif dinosaurus, jerapah, gajah kecil,  dan gajah sirkus (gajah Thailand). Selain binatang ada motif mobil, buah-buahan dan boneka anjing. Perhatian saya jatuh pada motif binatang. "Pasti bagus kalau saya buat baju dengan motif binatang". Lihat-lihat lagi. Hati saya jatuh ke motif jerapah dan gajah. Seru nih kalau batik-batik ini dipakai bukan oleh anak. Cling.. (ide di kepala muncul).

Yang terbayang di kepala saya adalah hutan afrika. Hutan di Sumatra. Kebun binatang indah. Taman besar dengan binatang-binatang langka yang dilestarikan. Ah.. jerapah ini bagus. Ah..gajah ini juga menarik. Wow..gajah sirkus ini lebih eksotis lagi. Dan tanpa terasa saya sudah menulis "Mau ya...." di kolom komentar di bawah foto batik itu. :)

Besoknya, saya mulai buka-buka lagi. Ah.. ketemu foto dengan motif batik Kurungan Hayam. Waduuh. Panik! Saya kan penyuka ornamen ayam. Entah itu pajangan, boneka, bordir, atau apapun. Termasuk batik cap Tasik ini. Iiiih lucuuuu. Warnanya juga macem-macem. Dari warna solid, sampai warna pastel. "Book!!!" hahahahhaa.....

Dalam beberapa minggu, ruangan kecil Lemari Lila di rumah saya kedatangan batik-batik cap bermotif binatang ini. Seru! Lebih seru lagi, karena beberapa lembar mulai masuk laci pribadi. Dikeluarin lagi, dimasukin lagi. Hihihihi..


Belum selesai lho.. Suatu hari saya di add Batik Aruna dari Pekalongan. Menawarkan batiknya. Kalau mau pesan bisa. Kamipum bertukar pin BB. Saya lalu berkomunikasi dengan Erni. Cewek asli Pekalongan yang ternyata kuliahnya dulu di Jogja. Setelah banyak bertukar info, produk dan lain-lain, saya disuguhi Erni dengan motif batik tulis bergambar sapi, kerbau dan badak. Ukuran binatangnya cukup besar dan tidak ada tambahan lain seperti tumpal atau motif lain. Klasik. Saya suka. "Aku pesan yang ini, ini dan ini ya Erni". "siap mbak", kata Erni si baik hati.

Selanjutnya memikirkan desainnya. Kepikiran membuat terusan, jumpsuit/romper atautwo- pieces atasan bawahan. Jadilah saya membuat survey kecil lewat status di FB. Yang merespon ternyata banyak juga. Dan hampir semua bilang, lebih senang dress dibandingkan jumpsuit/romper. Ok....

Garis rancangan yang saya pilih tidak jauh dari referensi dan image Lemari Lila. Unik, etnik, kasual. Referensi saya dapat dari cara saya berpakaian. Yaitu kesenangan saya memakai terusan agak longgar, jatuh di pinggul, dan memakai lengan (walaupun pendek saja). Referensi lain adalah rancangan perancang Jepang yang banyak terpengaruh kimono. Sehingga baju mereka terlihat longgar dan kasual. Label Matohu dari Jepang, rancangan Hiroyuki Horihata dan Makiko Sekiguchi sangat menginspirasi saya. 



Dengan modal gambar tangan yang tidak terlalu bagus, mulai deh saya menggambar beberapa  model dan mengeditnya satu persatu di komputer. Mencampur gambar saya dan beberapa foto dari komputer. Lalu berdiskusi dengan penjahit saya. Kami lalu membuat contoh baju dengan bahan seadanya dulu. Setelah penyempurnaan disana-sini, jadilah beberapa desain baju. Terusan-terusan santai kasual. Juga atasan untuk batik tulis Pekalongan yang kebetulan motifnya berukuran agak besar. Juga ada "cape bolero" dan 2 bandana. 

Kombinasi yang saya pakai adalah batik cap Tasik motif strip/garis yang menurut saya menarik. Juga motif seperti ketupat dan kawung/parang. Warna yang saya pilih adalah satu palet. Tidak tabrak warna. Kalaupun ada yang tidak satu palet, nuansanya tetap tidak kontras. 

Melihat motif binatang yang selalu membuat senang, saya selalu terbayang wajah seorang teman. Ria. Ria Papermoon. Pendiri dan "otak"nya   Papermoon Puppet Theatre  ini selalu sarat dengan ide. Imajinasi. Rasa senang. Cocok deh pokoknya dengan koleksi ini. Saya hubungi Ria dan tanya, "mau jadi model koleksiku yang baru nanti nggak?" Jawaban Ria " mau mbaak!!" Berangkat Riiiii!... 

Jadi deh.. hari Minggu itu Ria jadi model. Mengajak teman kami yang lainnya juga, Manda. Asiiik. Manda yang tinggalnya di Bandung, pas lagi ada di Jogja. Hari itu pas juga Nunu, teman dari Tasik main ke rumah. Bertiga mereka jadi model saya. Cocok. Saya menemukan model yang badannya super mungil, kecil tapi berisi, dan langsing sedang. Senangnya lagi, karena "anak-anak" ini sudah biasa tampil mengatur kostum( Manda adalah salah satu pemain di Papermoon Puppet Theater dan Nunu itu penyiar radio), jadinya saya tidak perlu penuh mengatur gaya. Cukup konsepnya mau seperti ini, jadilah mereka bebas bergaya sesukanya. Abu sang suami teteup jadi juru foto. 
Tadaaa.... puas kok sama foto-fotonya. Muah muah. Selesai sesi foto hari ini!
*Makasih Ria, Manda, Nunu!!



Wah..ternyata ada beberapa baju yang baru jadi belakangan. Ya udah, seperti biasa, saya deh yang jadi modelnya. Pagi-pagi jam 7 saat Aksan anak saya belum mandi, sempetin dulu foto. 


Akhirnya, ini dia koleksi terbarunya. Semoga bisa menjadi koleksi bajumu yang selalu dipakai. Saya termotivasi motif binatang. MotiFasi binatang. Dengan F yaa. Bukan V. 


Salam, Lila.

Rabu, 13 Juni 2012

Batik dari Lemari Lila

Batik.
Siapa bilang pakai batik itu kuno. Kuno juga selalu membuat pendapat, “banyak orang muda (atau merasa muda) dan orang modern (atau yang merasa modern) yang tidak mau pakai batik, karena dianggap kuno”. Itu hanya anggapan klise. Siapapun saat ini saya lihat senang memakai batik. Tapi tentu saja dijadikan baju siap pakai. Dengan warna-warna yang lebih bervariasi. Tapi tidak sedikit pula yang senang dengan batik klasik yang warnanya krem atau coklat..

Kesukaan pada batik tergantung pada selera. Juga pada lingkungan di sekitar kita. Bila sering melihat hal-hal yang berhubungan dengan batik, pasti dengan sendirinya batik akan jadi bagian hidup kita. Saya sendiri menyenangi batik karena pengaruh Ibu saya, yang memang pecinta batik. Ibu saya bilang, dirinya menyukai batik karena pengaruh nenek saya, yang memang memakai kain / jarik. Alasan lain ibu saya adalah karena ia harus sering menggunakan busana resmi nasional Indonesia untuk menemani ayah datang ke acara resmi di kantornya saat itu.

Jadilah saya suka batik. Alasan mendasar adalah, saya memang pecinta benda-benda etnik, termasuk ya.. batik.

Saat itu umur saya masih muda. Dan tumbuh sebagai anak kota. Bisa dikategorikan “muda dan modern” kan? Tapi saya suka batik. Setidaknya kain bermotif batik. Mulai dari motif Jawa Tengah, Jawa Barat sampai Sumatra.

Kesukaan saya itu juga yang menginspirasi, saat mulai menjahitkan baju dengan motif batik. Dengan alasan “tidak etis” dan “sayang untuk dipotong”, saya memilih batik dengan teknik cap untuk dijadikan sebuah model baju. Saya tidak terlalu tertarik dengan batik printing. Itu hanya sebuah kain dengan motif batik. Walaupun, sah-sah saja sih.. menyebutnya sebagai batik.

Hal selanjutnya yang dipikirkan adalah: baju model apa ya? Terus terang, menjahitkan baju dengan model sendiri didorong oleh inspirasi yang timbul dari kepala. Saya ingin baju bergaya “baju distro” atau “baju butik masa kini”, juga "baju vintage" tapi dengan sentuhan batik. Inspirasi ini memang tidak murni dari kepala sendiri. Dipengaruhi dari melihat, mengamati, mempelajari. Jadilah inspirasi.

Menurut Deddy, teman saya yang juga perancang busana, “rancangan sebuah baju jarang yang murni dari kepala perancangnya. Pasti ada rancangan awal yang menjadi acuannya. Bagaimana lalu kamu memadu padankan warna, atau letak bagian baju yang dirubah. Jadilah itu rancanganmu”

Kata-katanya menyemangati saya. Mulailah saya mengambil beberapa baju di lemari. Kebetulan, saya juga penggemar baju-baju berbahan kaos darii butik baju perempuan dan Distro. Mulailah saya mengadaptasi modelnya, dan menggantinya dengan motif batik. Awalnhya, Batik yang saya pilih adalah batik lawasan/ batik bekas yang unik dan kusam. Entah mengapa, daya tariknya berbeda. Setelah baju jadi, bagus. Tapi, kok semuanya batik ya? Perlu variasi nih....






Berbekal pergaulan, internet dan rajin jalan-jalan, saya menemukan beberapa jenis kain yang sesuai jika dipadankan dengan batik. Juga mulai mempelajari setiap jenis batik yang ada di Indonesia. Mulai membuka situs-situs yang berhubungan dengan batik. Mulai memegang dan mempelajari batik-batik nenek dan ibu saya yang ada di rumah.

Satu dua baju selesai. Dipakai sendiri. Dan beberapa teman tertarik. Mencoba “mengambil” baju saya dengan cara rayuan, sampai paksaan. Tentu saja tidak saya berikan. Bukan karena pelit, tapi karena saya bilang “mending saya buatin model kayak gini, tapi motif batiknya beda ya”.


Jawabnya” Iya, soalnya modelnya unik. Nggak pasaran. Males beli yang sudah jadi di toko-toko, modelnya gitu-gitu aja. Nggak up to date”.


Jawab saya “itulah alasan saya buat desain baju sendiri dengan batik. Juga dengan beberapa padanan kain lainnya.






Lalu mulailah saya “terima pesanan” seorang teman tadi. Lalu teman berikutnya. Dan teman selanjutnya.
Menambah pengamatan saya untuk trend batik saat ini. Tapi tetap bertahan dengan keinginan saya.
Lalu saya mulai berfikir, kenapa saya tidak mencoba ini jadi usaha saja ya?


Berbekal sedikit pengetahuan tentang batik, tidak bisa menjahit, tidak terlalu pandai menggambar desain baju, apalagi latar belakang pendidikan bukan desain, rasanya saya tidak terlalu percaya diri memulainya.


Tapi menyadari betapa saya ini mencintai dunia pakaian dan selalu menjadi pengamat pakaian. Juga kecintaan saya pada kain batik. Juga keinginan untuk belajar, Maka, apa salahnya mencoba?


Pakaian yang saya rancang sekarang adalah penggabungan keinginan seseorang untuk terlihat muda, modern, sedikit tersentuh gaya vintage- dengan sentuhan batik. Sentuhan. Ingat, sentuhan! S-E-N-T-U-H-A-N. Karena sekarang ini, memakai batik tidak harus keseluruhan dari atas sampai bawah berbatik. Sekarang, tali di sekitar tangan atau hanya kancingnya saja yang batik, orang sudah merasa punya “unsur batik” pada dirinya. Dari hal kecil dulu, lalu mulailah hal besar akan terjadi.. Percaya deh!
\


Dan... sayapun membuka lemari ini. Lemarinya tidak besar. Dan tidak terlalu penuh. Isinya sedikit-sedikit, juga tidak pernah kosong. Yang boleh membukanya siapa saja. Tapi biasanya mereka yang sejiwa dengan saya.


Kadang lemari ini dipukul orang. “Bajunya isinya jelek. Modelnya nyontek model perancang A atau B”. Atau ada yang dengan senyum datang terus sambil mengusap lemarinya. “Duh, mau lagi ah ambil baju dari sini. Modelnya sederhana. Batiknya unik. Harganya juga terjangkau”.





Apapun itu, kritik dan saran harus diperdulikan. Pujian harus menjadi alat penyemangat. Akhirnya, saya tidak pernah bilang memakai batik itu kuno. Memakai batik itu hanya mencari cara. Cara bagaimana batik itu menjadi sesuatu yang dicari. Baik dengan gaya muda, gaya modern, atau sekalipun dengan gaya kuno. Juga mencari cara memakai istilah sekarang. Muda jadi gaya. Modern jadi unik. Kuno jadi vintage.


Selamat berbatik. Dan membuka lemari saya. Lemari Lila.


(Lila)