Selasa, 20 Mei 2014

Larak Lirik Lurik

Koleksi lemari lila kali ini memakai kain lurik yang masih asli dikerjakan secara tradisional.

Kain Lurik dengan ciri khas motif garis sekarang ini banyak dijumpai di pasaran. Namun, kita perlu tahu dan lebih mengenal kain lurik yang mempunyai kualitas bagus. Lurik yang masih asli dikerjakan secara tradisional menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Berikut beberapa tips untuk lebih mengenali kain lurik dengan kualitas bagus yang dibuat secara tradisional menggunakan ATBM:

1. Lihat permukaan dua sisi kain lurik. Kain lurik tenun asli dua sisi permukaan bolak-baliknya sama. Hal ini dikarenakan proses pewarnaan pada kain tenun lurik dimulai dari benang. Jika satu permukaan warnanya dijumpai tidak sama (atau berwarna putih), maka sudah bisa dipastikan itu kain hasil printing mesin yang bermotif serupa lurik.

2. Terawanglah kain lurik, maka akan bisa dilihat kerapatan benang pada kain tersebut. Kain lurik yang dikerjakan dengan tenun secara tradisional, maka kerapatan benangnya tidak sama. Hal ini dikarenakan tenaga manusia yang kurang bisa konsisten seperti halnya mesin. Ada kalanya tenaga manusia kuat saat menenun, ada kalanya pula lemah karena kondisi capai dalam menenun. Hal ini berdampak pada kerapatan benang yang dihentakkan pada saat menenun.

3. Periksalah tepi kain lurik tersebut. Kain lurik yang dikerjakan secara tradisional cenderung kurang rapi. Berbeda halnya dengan yang dikerjakan dengan mesin yang sudah ada tambahan alat untuk merapikan tepi kain.

4. Kain tenun memiliki ciri susut pada saat pertama kali kena rendam air. Maka sebaiknya kain lurik direndam terlebih dahulu sebelum dijahit. Kain lurik yang kualitas bagus memiliki ciri susutnya sedikit ketika direndam, yakni penyusutan 2-5 cm per meternya. Maka ketika memilih kain lurik, pilihlah kain lurik yang mempunyai kerenggangan/kerapatan benang yang lebih rapat supaya sedikit penyusutannya ketika dicuci untuk pertama kali.

5. Kain lurik mungkin terkesan kaku ketika masih baru. Namun, sebenanrnya itu lebih berkualitas karena kerapatan benangnya lebih rapat. Setelah kemudian dicuci, maka kain lurik yang kaku tersebut nantinya akan lebih lembut.

6. Untuk kain lurik yang menggunakan pewarna alami, maka sebaiknya dicuci menggunakan lerak untuk menjaga kualitas warna. Namun, untuk yang menggunakan pewarna sintetis bisa dicuci menggunakan deterjen. Yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya saat menjemur hindari terkena sinar matahari secara langsung atau cukup diangin-anginkan.

Demikian apa yang bisa kami tulis dengan harapan supaya kita bisa lebih mengenal lurik. Kain lurik yang dibuat secara tradisional mungkin terkesan kurang bagus atau ketinggalan, namun disitulah sebenarnya kita akan menemukan nilai lebih. Kita akan bangga jika mengenakan pakaian yang itu dibuat secara handmade sebagai bentuk pelestarian terhadap tradisi dan warisan budaya luhur bangsa.

(Jussy Rizal/ pengelola perusahaan lurik Kurnia, Jogjakarta)










Model: Berend Abiyoso, Liana Masidin, Tommy Wiratama, Apriliana, Lia Michael dan Duane Franklin.
Photographer: Fabian Pamor Putranto.
Lighting: Aan Prihandaya.
Photo Studio at Locomotion Art Studio.

Kamis, 01 Mei 2014

Kebaya Ayam

Saya itu suka motif ayam. Di baju. Barang-barang kecil. Di sarung bantal. Atau pilihan kedua adalah motif burung. Saya juga pengen sekali mempunyai kain motif unggas-unggasan ini di atas kain katun paris. Melambai. Tipis. Mau dijadikan apa? Lihat saja nanti.

Kenapa ayam? Karena menurut saya, ayam itu melambangkan hidup nyaman di pinggir kota Indonesia. Nyaman. Tenang. Sederhana. Tapi juga ramai dengan suaranya. 

Cap berbentuk ayam saya beli di daerah Ngasem. Lalu saya kirim ke Pekalongan untuk dibuatkan kain cap ayam. Erni, dari Batik Aruna, mewujudkan keinginan saya yang lumayan banyak dengan tepat sekali.

Setelah jadi, kain batik cap ayam ini saya berikan ke tukang bordir dan jadilah kebaya ayam berbahan katun paris yang melambai dan adem. Padanannya adalah lurik (cerita lurik baca postingan setelah ini). 

Sesi foto berlangsung di studio foto Locomotion Art Studio. Fabian Pamor Putranto fotogragernya, Aan Prihandaya lightingman. Model Lia dan Anna.

Matur nuwun semuanya.








Kebaya Mbok Jumiyem

Apa yang terbayang di pikiranmu kalau mendengar kata Mbok?  Ibu-ibu tua? Wanita berkebaya dengan sanggul berantakan? Nenek-nenek bersirih di mulut?
Atau wanita modern dengan wajah sangat Indonesia (hidung pesek, bibir tebal lebar, mata besar, kulit gelap). Atau gimana?

Sering kali kita menggunakan kata "mbok" dalam kalimat bercandaan dengan teman. "Ih, kamu kayak mbok-mbok banget sih". Atau "Duh, mukanya mbok pisan euy". Nggak asing dengan ejekan "duh, baju mahal muka mbok". Kadang kata Mbok menjadi sesuatu yang lebih rendah daripada kita.

Mbok sendiri berasal dari bahasa Jawa. Kalau melihat arti kata Mbok di dalam kamus kata, ada tiga artinya:
1. Kata sapaan (ragam bahasa Jawa bebas/bukan halus) terhadap wanita.
2. Kata sapaan terhadap orang tua wanita atau Ibu.
3. Kata sapaan terhadap wanita tua yang kedudukan sosialnya lebih rendah daripada yg menyebutnya.

Saya rasa, arti ketiga itulah yang kadang-kadang membuat kata Mbok berkesan berarti lebih "rendah". 

Pada penduduk Jawa Tengah sendiri, penggunaan kata mbok lebih "mulia" digunakannya. Kebanyakan memang digunakan oleh mereka yang hidup di kota kecil dan masih memegang keaslian tradisinya, termasuk penggunakan kata dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa saya bilang "mulia"? Karena, Mbok adalah panggilan seorang anak kepada ibunya. Atau panggilan seseorang kepada wanita yang dia anggap lebih tua. Seseorang yang dia hormati.

Untuk saya, yang terbayang saat mendengar kata Mbok, adalah seorang wanita Jawa. Sudah berumur diatas 50 tahun. Bersanggul agak besar khas orang Jawa. Berwajah tenang dan ayu. Mengenakan kebaya. Bisa jadi ia bernama Mbok Jumiyem.

Di Jogjakarta, masih banyak ibu-ibu atau nenek-nenek berkebaya dan berkain. Dipakai dengan kain panjang dan diikat dengan lilitan stagen di perutnya.

Kebaya mbok Jum koleksi Lemari Lila dibuat lebih simpel. Lengan dibuat lebih pendek atau tidak terlalu sempit. Stagen panjang diganti menjadi sepotong kain yang diberi kancing pada baju. Dibuat dari bahan baru (bukan kebaya bekas dimodifikasi).

Kebaya si Mbok. Kebaya si Ibu. Mungkin saat memakainya, orang-orang sekitarmu akan berkomentar "Gile, ada mbok cantik. Seksi. Anggun!"
Selamat berkebaya. Selamat ber"Jumiyem".







Salam, Lila

Batik dari Lemari Lila

Batik.
Siapa bilang pakai batik itu kuno. Kuno juga selalu membuat pendapat, “banyak orang muda (atau merasa muda) dan orang modern (atau yang merasa modern) yang tidak mau pakai batik, karena dianggap kuno”. Itu hanya anggapan klise. Siapapun saat ini saya lihat senang memakai batik. Tapi tentu saja dijadikan baju siap pakai. Dengan warna-warna yang lebih bervariasi. Tapi tidak sedikit pula yang senang dengan batik klasik yang warnanya krem atau coklat..

Kesukaan pada batik tergantung pada selera. Juga pada lingkungan di sekitar kita. Bila sering melihat hal-hal yang berhubungan dengan batik, pasti dengan sendirinya batik akan jadi bagian hidup kita. Saya sendiri menyenangi batik karena pengaruh Ibu saya, yang memang pecinta batik. Ibu saya bilang, dirinya menyukai batik karena pengaruh nenek saya, yang memang memakai kain / jarik. Alasan lain ibu saya adalah karena ia harus sering menggunakan busana resmi nasional Indonesia untuk menemani ayah datang ke acara resmi di kantornya saat itu.

Jadilah saya suka batik. Alasan mendasar adalah, saya memang pecinta benda-benda etnik, termasuk ya.. batik.

Saat itu umur saya masih muda. Dan tumbuh sebagai anak kota. Bisa dikategorikan “muda dan modern” kan? Tapi saya suka batik. Setidaknya kain bermotif batik. Mulai dari motif Jawa Tengah, Jawa Barat sampai Sumatra.

Kesukaan saya itu juga yang menginspirasi, saat mulai menjahitkan baju dengan motif batik. Dengan alasan “tidak etis” dan “sayang untuk dipotong”, saya memilih batik dengan teknik cap untuk dijadikan sebuah model baju. Saya tidak terlalu tertarik dengan batik printing. Itu hanya sebuah kain dengan motif batik. Walaupun, sah-sah saja sih.. menyebutnya sebagai batik.

Hal selanjutnya yang dipikirkan adalah: baju model apa ya? Terus terang, menjahitkan baju dengan model sendiri didorong oleh inspirasi yang timbul dari kepala. Saya ingin baju bergaya “baju distro” atau “baju butik masa kini”, juga "baju vintage" tapi dengan sentuhan batik. Inspirasi ini memang tidak murni dari kepala sendiri. Dipengaruhi dari melihat, mengamati, mempelajari. Jadilah inspirasi.

Menurut Deddy, teman saya yang juga perancang busana, “rancangan sebuah baju jarang yang murni dari kepala perancangnya. Pasti ada rancangan awal yang menjadi acuannya. Bagaimana lalu kamu memadu padankan warna, atau letak bagian baju yang dirubah. Jadilah itu rancanganmu”

Kata-katanya menyemangati saya. Mulailah saya mengambil beberapa baju di lemari. Kebetulan, saya juga penggemar baju-baju berbahan kaos darii butik baju perempuan dan Distro. Mulailah saya mengadaptasi modelnya, dan menggantinya dengan motif batik. Awalnhya, Batik yang saya pilih adalah batik lawasan/ batik bekas yang unik dan kusam. Entah mengapa, daya tariknya berbeda. Setelah baju jadi, bagus. Tapi, kok semuanya batik ya? Perlu variasi nih....
Berbekal pergaulan, internet dan rajin jalan-jalan, saya menemukan beberapa jenis kain yang sesuai jika dipadankan dengan batik. Juga mulai mempelajari setiap jenis batik yang ada di Indonesia. Mulai membuka situs-situs yang berhubungan dengan batik. Mulai memegang dan mempelajari batik-batik nenek dan ibu saya yang ada di rumah.

Satu dua baju selesai. Dipakai sendiri. Dan beberapa teman tertarik. Mencoba “mengambil” baju saya dengan cara rayuan, sampai paksaan. Tentu saja tidak saya berikan. Bukan karena pelit, tapi karena saya bilang “mending saya buatin model kayak gini, tapi motif batiknya beda ya”.

Jawabnya” Iya, soalnya modelnya unik. Nggak pasaran. Males beli yang sudah jadi di toko-toko, modelnya gitu-gitu aja. Nggak up to date”.

Jawab saya “itulah alasan saya buat desain baju sendiri dengan batik. Juga dengan beberapa padanan kain lainnya.
Lalu mulailah saya “terima pesanan” seorang teman tadi. Lalu teman berikutnya. Dan teman selanjutnya.
Menambah pengamatan saya untuk trend batik saat ini. Tapi tetap bertahan dengan keinginan saya.
Lalu saya mulai berfikir, kenapa saya tidak mencoba ini jadi usaha saja ya?

Berbekal sedikit pengetahuan tentang batik, tidak bisa menjahit, tidak terlalu pandai menggambar desain baju, apalagi latar belakang pendidikan bukan desain, rasanya saya tidak terlalu percaya diri memulainya.

Tapi menyadari betapa saya ini mencintai dunia pakaian dan selalu menjadi pengamat pakaian. Juga kecintaan saya pada kain batik. Juga keinginan untuk belajar, Maka, apa salahnya mencoba?

Pakaian yang saya rancang sekarang adalah penggabungan keinginan seseorang untuk terlihat muda, modern, sedikit tersentuh gaya vintage- dengan sentuhan batik. Sentuhan. Ingat, sentuhan! S-E-N-T-U-H-A-N. Karena sekarang ini, memakai batik tidak harus keseluruhan dari atas sampai bawah berbatik. Sekarang, tali di sekitar tangan atau hanya kancingnya saja yang batik, orang sudah merasa punya “unsur batik” pada dirinya. Dari hal kecil dulu, lalu mulailah hal besar akan terjadi.. Percaya deh!
Dan... sayapun membuka lemari ini. Lemarinya tidak besar. Dan tidak terlalu penuh. Isinya sedikit-sedikit, juga tidak pernah kosong. Yang boleh membukanya siapa saja. Tapi biasanya mereka yang sejiwa dengan saya.

Kadang lemari ini dipukul orang. “Bajunya isinya jelek. Modelnya nyontek model perancang A atau B”. Atau ada yang dengan senyum datang terus sambil mengusap lemarinya. “Duh, mau lagi ah ambil baju dari sini. Modelnya sederhana. Batiknya unik. Harganya juga terjangkau”.
Apapun itu, kritik dan saran harus diperdulikan. Pujian harus menjadi alat penyemangat. Akhirnya, saya tidak pernah bilang memakai batik itu kuno. Memakai batik itu hanya mencari cara. Cara bagaimana batik itu menjadi sesuatu yang dicari. Baik dengan gaya muda, gaya modern, atau sekalipun dengan gaya kuno. Juga mencari cara memakai istilah sekarang. Muda jadi gaya. Modern jadi unik. Kuno jadi vintage.

Selamat berbatik. Dan membuka lemari saya. Lemari Lila.

Salam, Lila.